Sabtu, 07 Mei 2016

KUASA ROH KUDUS DAN KERAJAAN ALLAH

KUASA ROH KUDUS DAN KERAJAAN ALLAH
Pdt. Emr. Messakh Jack Karmany, S.Th

Tajuk ini sudah lumrah diujarkan oleh kita. Namun ia tetap segar manakalakita mengulasnya lagi. Untuk itu dalam persiapan peringatan tercurahnya Roh Kudus(HR Pentakosta), pasca kenaikan Yesus Kristus ke Surga (Hari Raya Asensi), maka mari kita melihat relasi Roh Kudus dan Kerajaan Allah dalam  Mat 12:28.  "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.".
Agar kita tidak terjebak dalam pemikiran dogmatis yang rumit, maka kali ini saya mengajak kita untuk memahami Kerajaan Allah ( = pemerintahan oleh Allah ), sbb:

·     SIFAT KERAJAAN ALLAH. Kerajaan Allah (Kerajaan Sorga) mengandung pengertian Allah yang datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan hak-hak-Nya melawan kekuasaan Iblis dan garis haluan dunia yang sekarang ini. Kerajaan Allah merupakan pengertian yang lebih luas daripada keselamatan atau gereja; Kerajaan Allah ialah Allah mengungkapkan diri-Nya dengan penuh kuasa dalam semua karya-Nya.

1.     Kerajaan itu adalah terutama pernyataan kuasa ilahi yang sedang bertindak. Allah memulai pemerintahan-Nya secara rohani di bumi ini di dalam hati dan di antara umat-Nya (Yoh 14:23; 20:22). Ia datang ke dunia dengan penuh kuasa (Yes 64:1; Mr 9:1; 1Kor 4:20). Kita tidak boleh memandang kuasa Allah ini sebagai kuasa yang jasmani atau politis, tetapi sebagai kuasa yang rohani. Kerajaan itu bukanlah sebuah teokrasi yang bersifat religius-politis; itu tidak juga menjalankan kekuasaan sosial atau politis atas kerajaan di dunia ini (Yoh 18:36). Pada waktu ini Allah tidak bermaksud untuk menebus dan membaharui dunia melalui suatu gerakan sosial atau politis, atau melalui suatu tindakan kekerasan (Mat 26:52Yoh 18:36).

Dunia sepanjang zaman ini akan tetap merupakan musuh Allah dan umat-Nya (Yoh 15:19; Rom 12:1-2; Yak 4:4; 1Yoh 2:15-17; 4:4). Pemerintahan Allah dalam bentuk hukuman langsung dan kekerasan hanya akan terjadi pada akhir zaman ini (Wahy 19:11-21).

2.     Karena Allah menyatakan diri dengan kuasa, dunia memasuki suatu keadaan krisis. Pernyataan kuasa Allah memenuhi kerajaan Iblis dengan ketakutan (Mat 4:3-9; 12:29; Mr 1:24), dan setiap orang diperhadapkan pada keputusan apakah akan tunduk kepada pemerintahan Allah atau tidak (Mat 3:1-2; 4:17; Mr 1:14-15). Syarat yang mendasar dan penting untuk memasuki Kerajaan Allah ialah, "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mr 1:15).

3.     Memasuki dunia dengan kuasa ilahi meliputi:
(a)     kuasa rohani atas pemerintahan dan kerajaan Iblis (Mat 12:28; Yoh 18:36) -- kedatangan Kerajaan Allah merupakan awal kehancuran pemerintahan Iblis (Yoh 12:31; 16:11) dan pembebasan umat manusia dari kuasa setan (Mr 1:34,39; 3:14-15; Kis 26:18) dan dari dosa (Rom 6:1-23);

(b)     kuasa untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan orang sakit (Mat 4:23; 9:35; Kis 4:30; 8:7; lih. art. PENYEMBUHAN ILAHI),

(c)      pemberitaan Injil, yang menginsafkan orang akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Mat 11:5; Yoh 16:8-11; Kis 4:33);

(d)     penyelamatan dan pengudusan bagi orang yang bertobat dan percaya kepada Injil (Yoh 3:3; 17:17; Kis 2:38-40; 2Kor 6:14-18; lih. art. PEMISAHAN ROHANI ORANG PERCAYA); dan

(e)      baptisan dalam Roh Kudus agar menerima kuasa untuk bersaksi bagi Kristus ( Kis 1:8; 2:4]


4.     Bukti yang perlu bahwa seseorang sedang mengalami Kerajaan Allah ialah kehidupan yang penuh dengan "kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Rom 14:17).

5.     Kerajaan Allah ini mempunyai aspek yang berhubungan dengan masa kini dan masa yang akan datang. Kerajaan itu merupakan suatu kenyataan yang sekarang di dalam dunia ini (Mr 1:15; Luk 18:16-17; Kol 1:13; Ibr 12:28), namun pemerintahan dan kuasa Allah belum benar-benar diwujudkan. Pekerjaan dan pengaruh Iblis serta orang fasik akan terus berlangsung hingga akhir zaman (1Tim 4:1; 2Tim 3:1-5; Wahy 19:19-20:10). Penyataan yang akan datang dari kemuliaan, kuasa, dan Kerajaan Allah akan terjadi ketika Yesus kembali untuk menghakimi dunia (Mat 24:30; Luk 21:27; Wahy 19:11-20; 20:1-6). Penggenapan Kerajaan Allah pada akhirnya akan datang ketika Kristus menang secara mutlak atas semua kejahatan dan perlawanan serta menyerahkan Kerajaan itu kepada Allah Bapa (1Kor 15:24-28; Wahy 20:7-21:8; Mr 1:15] mengenai berbagai penyataan Kerajaan Allah dalam sejarah penebusan).

·     PERANAN ORANG PERCAYA DALAM KERAJAAN ITU.
PB memberikan banyak keterangan tentang peranan orang percaya dalam Kerajaan Allah.

1.     Orang percaya bertanggung jawab untuk senantiasa mencari Kerajaan Allah dalam segala manifestasinya; mereka hendaknya lapar dan dahaga akan kehadiran dan kuasa Allah, baik dalam kehidupan mereka sendiri maupun di kalangan persekutuan Kristen Mat 5:10; 6:33]

2.     Dalam Mat 11:12 Yesus memberikan keterangan tambahan mengenai sifat umum Kerajaan Allah. Di situ Yesus menyatakan bahwa Kerajaan Sorga hanya dapat direbut oleh orang yang kuat, yang sungguh-sungguh mau melepaskan diri dari perbuatan dosa umat manusia untuk berbalik kepada Kristus, Firman-Nya dan jalan- Nya yang benar. Meskipun pengorbanan yang diminta itu besar, orang seperti itu dengan giat mencari Kerajaan itu dalam segenap kuasa-Nya. Dengan kata lain, mengalami Kerajaan Sorga dengan semua berkatnya menuntut usaha yang sungguh- sungguh dan pengerahan tenaga yang terus-menerus -- perjuangan iman yang disertai kehendak yang kuat untuk melawan Iblis, dosa, dan sering kali masyarakat yang sudah rusak.


3.     Kerajaan Allah bukan bagi mereka yang jarang berdoa atau yang berkompromi dengan dunia, mengabaikan Firman Allah, dan hampir tidak mempunyai kelaparan rohani. Kerajaan itu adalah bagi pria yang seperti Yusuf (Kej 39:9), Natan (2Sam 12:7), Elia (1Raj 18:21), Daniel dan tiga orang temannya (Dan 1:8; 3:16-18), Mordekhai (Est 3:4-5), Petrus dan Yohanes (Kis 4:19-20), Stefanus (Kis 6:8; 7:51) dan Paulus (Fili 3:13-14). Kerajaan itu bagi wanita seperti Debora (Hak 4:9), Rut (Rut 1:16-18), Ester (Est 4:16), Maria (Luk 1:26-35), Hana (Luk 2:36-38), dan Lidia (Kis 16:14-15,40).


  • TENTANG ROH KUDUS------ ikuti saja bina umat minggu depan

HIDUP DI JALANAN KARENA DITOLAK KELUARGA”

HIDUP DI JALANAN KARENA DITOLAK KELUARGA

 Oleh: Rio Suhindra


Harapan seorang Rio Suhindra sangat sederhana. Dia sangat ingin memiliki keluarga yang bisa menerimanya dan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Namun pada melihat kenyataannya, Rio harus kecewa.

Sejak berusia empat tahun, Rio tinggal dengan ayahnya dan ibu tirinya. Meski masih kecil, ibunya tidak segan memukuli tubuh Rio. Dalam hati kecilnya, Rio sangat merindukan sosok ibu sebenarnya. Meskipun dia bahkan tidak tahu bagaimana kabar ibu kandungnya. “Saya merasa ini adalah nasib yang harus dijalani. Saya sangat ingin ketemu ibu kandung saya, tapi saya tidak tahu keberadaannya,” kata Rio. 

Tidak sekolah, Rio yang memasuki usia remaja memilih untuk bekerja di pabrik plastik. Kala itu, dia bekerja selama enam hari dalam seminggu dan mendapat upah Rp 54.000,-. Sadar dengan keadaan ekonomi keluarganya, Rio selalu memberikan penghasilannya untuk keluarga. “Kebutuhan di rumah semua mengharapkan dari gaji saya. Pada saat itu, papa saya sudah tidak bekerja. Sehingga sama sekali tidak ada penghasilan dari manapun.”

Meskipun begitu, Rio tetap mendapat perlakuan kasar dari keluarganya. Sehingga dia berubah menjadi anak pendiam dan murung saat di dalam rumah. Pelampiasannya justru ditunjukkan saat dia berada di luar. Rio menunjukkan sikap temperamen, kasar, dan suka berkelahi. Hingga akhirnya dia terlibat dalam perkelahian antar pemuda kampung dan memilih bersembunyi ke tempat kerabatnya. 

Keadaan ini membuat Rio semakin ingin tahu tentang keberadaan ibu kandungnya. Berbekal alamat ibu, Rio nekat untuk pergi sendiri menemui ibunya. “Saya ingin tahu ibu saya siapa dan bagaimana dia. Kalau bertemu dengannya, harapan saya bisa bahagia.”

Pencarian itu membawanya bertemu dengan ibu kandungnya. Meskipun canggung, Rio sangat senang. Harapannya saat itu adalah dia bisa menemukan sosok ibu yang bisa menerima dirinya dan membuatnya bahagia.

Tidak lama harapan itu bertahan, Rio sekali lagi harus kecewa. Ibunya mulai menunjukkan penolakan terhadap dirinya. Sadar dengan itu, Rio berusaha agar bisa diterima mama dan keluarga barunya dengan bekerja. “Karena saya tidak disekolahkan, maka saya mengerjakan apapun. Termasuk menjadi pemulung dan kerja bangunan, yang penting bisa kasih uang ke mama,” tuturnya. 

Akan tetapi usahanya ini justru membuat ibunya malu dan Rio diusir. Harapannya untuk diterima oleh keluarga, hancur seketika. “Terang-terangan mama mengusir saya, saya kaget. Mama yang tadinya saya harapkan bisa membuat saya bahagia ternyata bukan jawabannya,” ungkapnya.

Kesedihan ini lantas membuatnya berpikir bahwa tidak ada yang menginginkannya. “Kalau saya bisa memilih, lebih baik saya jangan dilahirkan.” Rio akhirnya memutuskan untuk hidup sendiri di jalanan.

Untuk makan, Rio biasa mengamen dari satu angkutan ke angkutan lainnya. Kehidupan bebas di jalanan memang didapatkannya, namun tidak lama dirinya melihat kenyataan yang menakutkan. “Kehidupan di jalanan itu tidak aman. Saya sering melihat pengamen yang hampir saling membunuh satu sama lain. Aturannya, ‘siapa kuat dia yang menang’.”

Dalam ketidakpastiannya, Rio bertemu dengan seorang pria. Berbincang sebentar, pria tersebut mengatakan bahwa ‘setiap manusia punya masa depan yang indah di dalam Tuhan’. Tidak terkecuali bagi dia. Mendengar itu, Rio tidak langsung percaya.
“Bagaimana mungkin saya yang ditolak semua anggota keluarga bisa mengalami masa depan indah di hadapan Tuhan, masa sih?” Pada kesempatan yang sama, pria tadi kemudian mengajaknya untuk mengikuti ibadah di tempatnya. Dia juga memberikan alamat, kalau saja Rio membutuhkan bantuan. Meski ragu, Rio tetap menerima alamat tersebut dan beranjak pergi.

Pengalaman hidupnya selama di jalanan terasa makin mencekam. Kekerasan sesama pengamen semakin sering terlihat. Perasaan bebas yang dulu diharapkannya, berganti dengan ketakutan. “Saat itu saya merasa hidup saya terlalu sakit. ‘Kenapa saya harus mengalami penderitaan seperti ini?’ tanya saya pada Tuhan.” 

Saat menemui titik terendah dalam kehidupannya, Rio berdoa agar hidupnya bisa diubahkan Tuhan. Inilah yang menjadi awal titik balik kehidupannya. Rio akhirnya memberanikan diri untuk datang ke alamat tersebut dan mengikuti ibadah di sana. 

Perlahan, kehidupan Rio makin dipulihkan. Perasaan tertolak itu sirna, berganti menjadi perasaan kasih Tuhan yang memeluknya. Selama berada di sana, Rio pun yakin bahwa masa depan bukan diciptakan karena takdir, tapi karena perkenanan Tuhan Yesus sendiri. “Tuhan mengasihi saya. Dia mau saya berubah, sehingga Tuhan bisa pakai hidup saya.” 

Rio kemudian bersedia untuk melepas pengampunan bagi keluarganya. Ketakutan dan kebencian yang selama ini disimpannya berubah menjadi sukacita yang meluap dari dalam hatinya. Dia juga bersyukur dengan dengan pekerjaan tangan Tuhan dalam kehidupannya.


Saat ini Rio aktif dalam melayani Tuhan dan berbagi kasih di rehabilitasi pondok anugerah. Kini hidupnya semakin diberkati dengan kehadiran istri dan seorang putra. “Lewat hidup saya yang menyakitkan, saya ingin agar orang lain bisa melihat bahwa saya bisa dipulihkan. Demikian pula dengan hidup Anda, juga bisa dipulihkan.” 

PACARKU PERGI KETIKA AKU HAMIL

PACARKU PERGI KETIKA AKU HAMIL

Oleh: Hertina Silalahi



Hidup Hertina Silalahi hancur setelah mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal paling menyakitkan yang harus diterimanya bahwa kekasih yang menghamilinya tidak bertanggung jawab. Hertina dicampakkan begitu saja dan harus menanggung aib atas kehamilannya baik di lingkungan kampus maupun keluarga.

Hertina begitu terpukul setelah menyadari bahwa sang pacar, sebut saja Tirto, pria yang dianggap mencintainya apa adanya ternyata tidak bertanggung jawab. “Awalnya saya bertemu dengan Tirto, itu di kampus. Saya bersyukur saya tidak pernah salah berpacaran dengan dia,” kenang Hertina.

Namun kenyataan tak seperti yang diharapkan Hertina. Di masa-masa berpacaran itu, Hertina dan Tirto justru jatuh dalam hubungan di luar nikah. “Yang dia lakukan adalah dia meminta saya melakukannya lagi dengan kata-kata yang manis. Dia akan bertanggung jawab, tidak akan terjadi apa-apa, akhirnya saya kembali lagi jatuh (melakukan hubungan di luar nikah),” ucapnya mengenang masa lalu yang sebelumnya juga pernah jatuh dalam dosa seksual bersama mantan pacarnya.

Apa daya, habis manis sepah dibuang. Begitulah akibat yang harus diterima Hertina ketika mendengar bahwa Tirto tidak mau bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Hertina pun harus memikul beban psikologi yang begitu berat, bukan hanya memikirkan tentang masa depannya tetapi berita kehamilannya menimbulkan kehebohan di lingkungan kampus, mulai dari teman-teman hingga dekan.

Rasa marah membuat Hertina berpikiran pendek. Tak ada lagi jalan selain bunuh diri di hadapan Tirto. “Saya sudah kalap. Pikiran saya sudah tidak jelas lagi. Yang ada dipikiran saya adalah memotong urat nadi saya dengan silet yang sudah ada di tangan saya. Saya bilang kalau saya mati, kamu yang akan bertanggung jawab”.

Ancaman Hertina akhirnya membuat Tirto berjanji akan menikahinya. Mereka telah berencana untuk menikah dalam waktu dekat. Keluarga kedua belah pihak telah bertemu. Sayangnya, Hertina mendapati dirinya kembali dikecewakan bahwa pernikahan tak akan pernah terjadi.  Pasalnya, Tirto justru meminta agar kandungan tersebut digugurkan saja, dan segera kabur meninggalkan Hertina. “Saya merasa dipermainkan, saya merasa dibohongi dengan keluarga saya juga,” kenang Hertina pada saat terakhir kali melihat Tirto.

Pernikahan yang batal dan keinginan untuk tetap melahirkan anak yang dikandungnya membuat Hertina merasa telah melukai seluruh keluarganya. Dengan penuh penyesalan, ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah. Di atas secarik kertas, Hertina mengungkapkan isi hati dan penyesalannya kepada keluarga dan tinggal di sebuah yayasan yang menerima orang-orang bermasalah seperti dia.

Ia dirawat selama tiga bulan di sana sampai dia melahirkan. “Ketika saya melihat muka anak saya pertama kali, saya melihat muka bapaknya sama dia, timbul kebencian yang lebih lagi. “Kenapa Tuhan ijinkan dia pergi. Kenapa kami nggak bersama aja. Dan itu terus terngiang dipikiran saya. Rasanya pahit sekali. Saya harus memiliki anak yang tidak pernah saya rencanakan. Lahir tanpa seorang ayah”.
Kebencian dan penyesalan yang menyatu dalam hidup Hertina membuatnya merasa hancur. Pengharapan seolah sirna. Hingga pengharapan itu kembali tumbuh perlahan-lahan setelah mendapatkan pelayanan dari seorang mentor di Yayasan bernama Rumah Hidup Baru itu. “Dia bilang bahwa Tuhan itu baik. Tuhan itu adil. Saat ini kamu boleh merasa sakit, tapi lihat kalau kamu tetap berseru kepada Tuhan, pasti Tuhan akan ubah semuanya”.

Setelah mendapatkan bimbingan itu, hati Hertina seolah dibukakan dan ia pun mendengar dengan jelas suara Tuhan berseru, “Hertina, Aku mengasihi engkau”. “Saya tidak jawab. Dua kali saya dengar di telinga saya. Jelas sekali dan saya menangis. Setelah itu saya bangun dan berdoa, ‘Benarkah itu suaraMu Tuhan. Kalau itu benar, karena saya merasakan damai, ya, seperti lahir baru kembali’”.

Tuhan memberi pesan yang sangat jelas kepada Hertina dalam Matius 5: 8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah”. Hertina pun menyadari bahwa kesucian hati yang dimaksudkan adalah mengampuni. “Saya minta maaf sama Tuhan. Saya sebutkan namanya, saya mengampuni dia Tuhan, saya tidak mau lagi merasakan hal yang kosong seperti ini. Saya mau melayaniMu Tuhan. Saya berlutut dihadapan Tuhan. Saya mau kembali”.

Setelah melepaskan pengampunan tersebut, keajaiban pun terjadi. Seluruh keluarga yang telah disakitinya akhirnya meminta Hertina untuk kembali ke rumah. “Yesus memulihkan keluarga saya dan hati saya”. 

KUASA ROH KUDUS DAN KERAJAAN ALLAH

KUASA ROH KUDUS DAN KERAJAAN ALLAH
Pdt. Emr. Messakh Jack Karmany, S.Th

Tajuk ini sudah lumrah diujarkan oleh kita. Namun ia tetap segar manakalakita mengulasnya lagi. Untuk itu dalam persiapan peringatan tercurahnya Roh Kudus(HR Pentakosta), pasca kenaikan Yesus Kristus ke Surga (Hari Raya Asensi), maka mari kita melihat relasi Roh Kudus dan Kerajaan Allah dalam  Mat 12:28.  "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.".
Agar kita tidak terjebak dalam pemikiran dogmatis yang rumit, maka kali ini saya mengajak kita untuk memahami Kerajaan Allah ( = pemerintahan oleh Allah ), sbb:

·     SIFAT KERAJAAN ALLAH. Kerajaan Allah (Kerajaan Sorga) mengandung pengertian Allah yang datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan hak-hak-Nya melawan kekuasaan Iblis dan garis haluan dunia yang sekarang ini. Kerajaan Allah merupakan pengertian yang lebih luas daripada keselamatan atau gereja; Kerajaan Allah ialah Allah mengungkapkan diri-Nya dengan penuh kuasa dalam semua karya-Nya.

1.     Kerajaan itu adalah terutama pernyataan kuasa ilahi yang sedang bertindak. Allah memulai pemerintahan-Nya secara rohani di bumi ini di dalam hati dan di antara umat-Nya (Yoh 14:23; 20:22). Ia datang ke dunia dengan penuh kuasa (Yes 64:1; Mr 9:1; 1Kor 4:20). Kita tidak boleh memandang kuasa Allah ini sebagai kuasa yang jasmani atau politis, tetapi sebagai kuasa yang rohani. Kerajaan itu bukanlah sebuah teokrasi yang bersifat religius-politis; itu tidak juga menjalankan kekuasaan sosial atau politis atas kerajaan di dunia ini (Yoh 18:36). Pada waktu ini Allah tidak bermaksud untuk menebus dan membaharui dunia melalui suatu gerakan sosial atau politis, atau melalui suatu tindakan kekerasan (Mat 26:52Yoh 18:36).

Dunia sepanjang zaman ini akan tetap merupakan musuh Allah dan umat-Nya (Yoh 15:19; Rom 12:1-2; Yak 4:4; 1Yoh 2:15-17; 4:4). Pemerintahan Allah dalam bentuk hukuman langsung dan kekerasan hanya akan terjadi pada akhir zaman ini (Wahy 19:11-21).

2.     Karena Allah menyatakan diri dengan kuasa, dunia memasuki suatu keadaan krisis. Pernyataan kuasa Allah memenuhi kerajaan Iblis dengan ketakutan (Mat 4:3-9; 12:29; Mr 1:24), dan setiap orang diperhadapkan pada keputusan apakah akan tunduk kepada pemerintahan Allah atau tidak (Mat 3:1-2; 4:17; Mr 1:14-15). Syarat yang mendasar dan penting untuk memasuki Kerajaan Allah ialah, "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mr 1:15).

3.     Memasuki dunia dengan kuasa ilahi meliputi:
(a)     kuasa rohani atas pemerintahan dan kerajaan Iblis (Mat 12:28; Yoh 18:36) -- kedatangan Kerajaan Allah merupakan awal kehancuran pemerintahan Iblis (Yoh 12:31; 16:11) dan pembebasan umat manusia dari kuasa setan (Mr 1:34,39; 3:14-15; Kis 26:18) dan dari dosa (Rom 6:1-23);

(b)     kuasa untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan orang sakit (Mat 4:23; 9:35; Kis 4:30; 8:7; lih. art. PENYEMBUHAN ILAHI),

(c)      pemberitaan Injil, yang menginsafkan orang akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Mat 11:5; Yoh 16:8-11; Kis 4:33);

(d)     penyelamatan dan pengudusan bagi orang yang bertobat dan percaya kepada Injil (Yoh 3:3; 17:17; Kis 2:38-40; 2Kor 6:14-18; lih. art. PEMISAHAN ROHANI ORANG PERCAYA); dan

(e)      baptisan dalam Roh Kudus agar menerima kuasa untuk bersaksi bagi Kristus ( Kis 1:8; 2:4]


4.     Bukti yang perlu bahwa seseorang sedang mengalami Kerajaan Allah ialah kehidupan yang penuh dengan "kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Rom 14:17).

5.     Kerajaan Allah ini mempunyai aspek yang berhubungan dengan masa kini dan masa yang akan datang. Kerajaan itu merupakan suatu kenyataan yang sekarang di dalam dunia ini (Mr 1:15; Luk 18:16-17; Kol 1:13; Ibr 12:28), namun pemerintahan dan kuasa Allah belum benar-benar diwujudkan. Pekerjaan dan pengaruh Iblis serta orang fasik akan terus berlangsung hingga akhir zaman (1Tim 4:1; 2Tim 3:1-5; Wahy 19:19-20:10). Penyataan yang akan datang dari kemuliaan, kuasa, dan Kerajaan Allah akan terjadi ketika Yesus kembali untuk menghakimi dunia (Mat 24:30; Luk 21:27; Wahy 19:11-20; 20:1-6). Penggenapan Kerajaan Allah pada akhirnya akan datang ketika Kristus menang secara mutlak atas semua kejahatan dan perlawanan serta menyerahkan Kerajaan itu kepada Allah Bapa (1Kor 15:24-28; Wahy 20:7-21:8; Mr 1:15] mengenai berbagai penyataan Kerajaan Allah dalam sejarah penebusan).

·     PERANAN ORANG PERCAYA DALAM KERAJAAN ITU.
PB memberikan banyak keterangan tentang peranan orang percaya dalam Kerajaan Allah.

1.     Orang percaya bertanggung jawab untuk senantiasa mencari Kerajaan Allah dalam segala manifestasinya; mereka hendaknya lapar dan dahaga akan kehadiran dan kuasa Allah, baik dalam kehidupan mereka sendiri maupun di kalangan persekutuan Kristen Mat 5:10; 6:33]

2.     Dalam Mat 11:12 Yesus memberikan keterangan tambahan mengenai sifat umum Kerajaan Allah. Di situ Yesus menyatakan bahwa Kerajaan Sorga hanya dapat direbut oleh orang yang kuat, yang sungguh-sungguh mau melepaskan diri dari perbuatan dosa umat manusia untuk berbalik kepada Kristus, Firman-Nya dan jalan- Nya yang benar. Meskipun pengorbanan yang diminta itu besar, orang seperti itu dengan giat mencari Kerajaan itu dalam segenap kuasa-Nya. Dengan kata lain, mengalami Kerajaan Sorga dengan semua berkatnya menuntut usaha yang sungguh- sungguh dan pengerahan tenaga yang terus-menerus -- perjuangan iman yang disertai kehendak yang kuat untuk melawan Iblis, dosa, dan sering kali masyarakat yang sudah rusak.


3.     Kerajaan Allah bukan bagi mereka yang jarang berdoa atau yang berkompromi dengan dunia, mengabaikan Firman Allah, dan hampir tidak mempunyai kelaparan rohani. Kerajaan itu adalah bagi pria yang seperti Yusuf (Kej 39:9), Natan (2Sam 12:7), Elia (1Raj 18:21), Daniel dan tiga orang temannya (Dan 1:8; 3:16-18), Mordekhai (Est 3:4-5), Petrus dan Yohanes (Kis 4:19-20), Stefanus (Kis 6:8; 7:51) dan Paulus (Fili 3:13-14). Kerajaan itu bagi wanita seperti Debora (Hak 4:9), Rut (Rut 1:16-18), Ester (Est 4:16), Maria (Luk 1:26-35), Hana (Luk 2:36-38), dan Lidia (Kis 16:14-15,40).


  • TENTANG ROH KUDUS------ ikuti saja bina umat minggu depan

PENSIUN????

“PENSIUN??”

Menjelang kebaktian purnalayan bagi 9 orang pendeta GMIT pada 8 Mei 2016, saya ingat kisah seorang penginjil begini:.

Ketika pesawat kami mendarat di bandara Charles de Gaulle di Paris, tepuk tangan meriah muncul dari antara sekelompok karyawan perusahaan penerbangan. Saya merasa hal itu agak tidak biasa terjadi, sampai akhirnya saya diberi tahu bahwa sang pilot baru saja menyelesaikan penerbangan yang terakhir dalam kariernya. Ia akan pensiun besok, dan saat itu rekan-rekannya mengungkapkan kebahagiaan mereka untuknya.

Bagi banyak orang, pensiun berarti mengerjakan apa yang selama ini selalu ingin mereka kerjakan—memancing, bermain golf, bepergian. Orang-orang yang lain bekerja keras agar dapat pensiun lebih awal, sehingga mereka dapat menikmati buah dari kerja keras mereka selagi masih muda dan sehat.


Oleh: Pdt. Emr. M. Jack Karmany, S.Th

Antara Ketaantan dan Gejolak Hati


Antara Ketaantan dan Gejolak Hati
Yehezkiel : 2 : 1 – 3 : 15

 Menjelang HR Pentakosta, mari kita perhatikan sekali lagi panggilan dan firman-Nya kepada Yehezkiel. Sikap yang dituntut dari Yehezkiel adalah siap dan sigap (ayat 1, Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia  bangunlah dan berdiri,  karena Aku hendak berbicara dengan engkau.), yang menandakan ketaatan yang tidak hanya emosional namun ketaatan yang cerdas. Tugas Yehezkiel berat sekali. Ia harus memberitakan firman penghukuman pada bangsanya sendiri. Mirip dengan tugas yang Yeremia terima. Kita telah melihat, visi kemuliaan-Nya sudah dinyatakan, lalu firman-Nya disampaikan (ayat 2:1-3:15). Urapan Roh Allah hadir pada Yehezkiel. LAI (TB, 1974) memakai "kembalilah rohku ke dalam aku", namun terjemahan lebih tepat "Roh (Tuhan) memasuki aku" (ayat 2).

Tugas Yehezkiel yang berat dipaparkan demikian: Ia akan menghadapi bangsa yang mendurhaka kepada Tuhan (ayat 3). Baik mereka maupun nenek moyang mereka telah berlaku tidak setia kepada Tuhan. Kedurhakaan mereka diungkapkan lewat satu kata yang berulang dipakai, pemberontak (ayat 3, 5, 6, 7, 8) dan dua kata yang menunjukkan karakter yang tidak mau diajar, yaitu keras kepala dan tegar hati. Sebutan akrab TUHAN (Yahweh) pun hanya digunakan untuk menegaskan asal usul firman yang harus Yehezkiel beritakan (ayat 4). Yehezkiel akan mengalami masa sulit dan berbahaya seperti orang yang tinggal di tengah semak belukar yang berduri yang dihuni kalajengking yang sangat berbisa (ayat 6). Tidak ada kepastian apakah Israel akan mendengarkan pemberitaan Yehezkiel akan firman Tuhan atau tidak (ayat 5, 7). Ketaatan dan kecerdasan  diperlukan sebab tugas yang akan diemban bukanlah tugas yang ringan dan mudah. Allah sendiri mengakui bahkan memahami hal itu sehingga Ia menyebutkan berkali-kali karakteristik bangsa yang akan dilayani Yehezkiel (ayat 3-8). Namun Allah tidak hanya sebatas peduli, Ia juga akan selalu berada di belakang Yehezkiel untuk menguatkan hati dan terus memompa semangatnya, sehingga tugas Yehezkiel dapat dilaksanakan dengan baik (ayat 3:8-9, Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak  seperti kaum pemberontak  ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah  apa yang Kuberikan kepadamu." 2:9 Aku melihat, sesungguhnya ada tangan  yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan  kitab).

Allah juga menegaskan bahwa yang terpenting bagi Allah adalah Yehezkiel melaksanakan tugas dengan setia bukan pertobatan bangsa Israel (ayat 5, Dan baik mereka mendengarkan  atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak --mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka). Ini tidak berarti bahwa Allah hanya peduli kepada pelayan-Nya dan mengabaikan pertobatan manusia, sebab tujuan misi Yehezkiel adalah agar bangsa Israel mengetahui bahwa ada seorang nabi Allah di antara mereka dan bahwa mereka sudah diberi kesempatan untuk bertobat. Suatu saat Allah akan datang untuk menghakiminya.

Respons Yehezkiel terhadap firman dan panggilan Allah sangat indah yaitu ia taat secara total ketika diperintahkan untuk memakan seluruh gulungan kitab (ayat 3:1-3). Apa yang dihasilkan oleh ketaatan Yehezkiel? Kekuatan Ilahi untuk mewartakan firman-Nya walaupun isinya bertentangan dengan pengharapan bangsa Israel (ayat 3:1) serta kedamaian di dalam hidupnya (ayat 3:3). Emosi Yehezkiel juga bergejolak (ayat 3:14) yang disebabkan karena gabungan dua pemikiran yaitu ia merasakan ketidakadilan Allah yang mengutus dirinya dengan tugas yang berat, serta ia mengidentifikasikan dirinya dengan perasaan Allah terhadap umat- Nya yang senantiasa memberontak. Karena itu ia membutuhkan waktu untuk berdiam diri selama 7 hari (ayat 3:15). Berdiam diri merupakan terapi yang paling tepat bagi ketegangan emosi.
Situasi sulit yang dihadapi Yehezkiel tidak beda jauh dengan situasi yang dihadapi kekristenan masa kini. Bangsa kita pun bangsa pemberontak, keras kepala, dan tegar hati, walaupun Tuhan telah menegur dengan berbagai cara: deraan gempa bumi, malapetaka alam maupun buatan manusia, dan keterpurukan ekonomi yang semakin menjadi-jadi, dst. Sama seperti kepada Yehezkiel, kita diperintahkan untuk tidak takut kepada manusia, sebaliknya taat, tidak memberontak kepada penugasan Tuhan.
Jack.png
Kalau begitu : Banyak sekali saudara-saudara kita yang mempunyai panggilan seperti Yehezkiel yaitu melayani orang-orang yang secara sengaja menentang dan menantang Injil dan pelayanan Yesus Kristus. Emosi mereka seringkali juga bergejolak. Berdoalah untuk mereka serta berikan persembahan kepada Allah melalui mereka. ~~~Amin!

Oleh: Pdt. Emr. M. Jack Karmany, S.Th

ORANG BANYAK TIDAK MEMIMPIN. MEREKA HANYA MENGIKUTI


Ketika ayah melihat saya menangis hanya karena tidak sempat memotong rambut mengikuti model terbaru, ia bertanya, “Mengapa engkau merusak penampilanmu dengan menata rambutmu begitu?”

“Jangan menjadi seorang bodoh dan mengikuti orang lain”, kata ayah. “Lakukanlah apa yang kukatakan kepadamu: belahlah rambutmu persis di tengah, sisirlah ke belakang dan ikatlah dengan sebuah pita”.

Kendatipun ayah hanya bergurau, saya sungguh-sungguh melakukan apa yang dikatakannya, dan ia berdiri menontonku, “Sekarang”, katanya, “tetaplah dengan model itu selama seminggu dan jika setengah anak wanita di kelasmu tidak menirunya, aku akan membayarmu Rp 100.000”.

Saya berpikir ia hanya ingin sesuatu yang agak sederhana; tetapi Rp. 100.000,- suatu jumlah yang besar. Maka saya tiba di kelas saya dan mengejutkan setiap orang. Tapi menjelang akhir minggu hampir setiap gadis di kelasku sudah meniru model rambutku.

“Aku telah mengatakannya kepadamu”, kata ayah. “Camkan ini! Janganlah tampil seperti orang kebanyakan. Dunia ini mempunyai cukup banyak hal yang belum dibuat. Jangan pernah takut mempunyai gagasan sendiri. Dan jika itu baik, teruskan, tidak peduli apa yang dilakukan oleh orang banyak”. Orang banyak tidak memimpin. Mereka hanya mengikuti.


~~~~~~~~Tuhan Yesus memberkati~~~~~~~~