Sabtu, 04 Juni 2016

GEREJA YANG PEDULI DAN BERBAGI


2 Korintus 8 : 1 – 15

Dengan mencantumkan nama anggota PGI pada papan nama jemaat maupun kepala surat, maka kita menyatakan bahwa kita semua adalah anggota  Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI),  karena  pada 25 Mei 1950,--  5 thn sesudah kemerdekaan RI – GMIT turut mendirikan lahirnya DGI (kini:PGI) di Jakarta. Pada HUT  PGI 66 ini semua gereja anggota PGI (89 synode) beribadah menggunakan liturgi GMIT  model II, dengan thema:  GEREJA YANG PEDULI DAN BERBAGI (2 Kor.8:13-15). Dua kata kunci dalam tema ini: Peduli adalah sebuah sikap; dan berbagi adalah sebuah tindakan.  Kepedulian menunjukan kesadaran bahwa kita terikat bersama-sama dengan orang lain dalam satu kehidupan bersama, karena kita hidup dalam bumi yang satu. Dalam kepedulian seperti itulah, kita lalu dengan rela berbagi. Berbagi bukan karena kita kaya, lebih mampu dan mapan. Tapi karena yang lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita.
 Mengapa gereja  harus peduli dan mau berbagi? Karena kemurahan hati. Kemurahan hati  itu adalah karunia Allah,dan bukanlah beban yang mewujud melalui kepedulian dan berbagi demi  keseimbangan. Dengan peduli dan berbagi maka  tiap orang kristen dibebaskan dari kecenderungan menguatnya gaya hidup individualistis yang makin mengerikan.
Dulu, kita bikin kandang untuk hewan. Sekarang kita bikin rumah untuk kandang manusia.  Rumah dikelilingi tembok besar. Ketika kita  masuk ke halaman rumah,kita  mulai tutup pintu pagar; lalu masuk rumah, kita tutup pintu rumah; alu kita masuk kamar  tutup pintu kamar, lalu tidur mulai tutup pintu hati bagi orang lain. 
Banyak orang semakin tidak peduli dengan orang lain dan apa yang terjadi di sekitarnya, sejauh tidak menggangu diri saya, maka bukan urusan saya.  Orang makin merasa nyaman hidup sendiri, dan tidak rela keluar dari zona kenyamanannya. Orang lain akan menjadi penting sejauh dia menguntungkan saya. Relasi antar manusia lalu menjadi relasi ‘kalau ada keuntungan’, bukan lagi relasi sosial alami yang saling membutuhkan. Orang menjadi sibuk mengurus urusannya sendiri, berjuang meraih dan menumpuk materi, kuasa dan kedudukan bagi kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap hidup seperti ini tidak jarang bermuara pada keserakahan yang mematikan kehidupan bersama.
Bagaimana dengan gereja??  Lihat! gereja-gereja kita pun mulai tiru-tiru orang modern dengan gaya individualistis yang  tinggi sehingga semakin jauh dari Tuhan. Coba perhatikan!!, banyak uang gereja yang dipakai untuk bikin pagar tinggi, pintu besi, lalu tertutup hatinya untuk orang lapar, human traficking, kekerasan sexual, dll. Kalau diminta untuk prihatin dan berbagi pastilah kita menghindar dan berkata kami pun memiliki banyak masalah. Padahal,dengan peduli dan berbagi kita bisa berjalan bersama menyampaikan kabar baik bagi dunia ini.
Kontras dengan itu, jemaat di Makedonia (Filipi, Tesalonika,Berea,dll) dengan jemaat di Yerusalem (2Korintus 8:1-24), saling peduli dan berbagi. Meskipun mereka miskin, menderita, dan menghadapi berbagai cobaan, mereka tetap saling menolong, bahkan mendesak untuk mengambil bagian dalam pelayanan (2Korintus 8:4), sehingga mereka bisa berjalan dan bertumbuh bersama. Mengapa? “Tanpa kita berjalan bersama-sama kita sedang memelihara ‘singa’ saling menggigit dan menyikut (bahasa Kupng: baterek). Kita mesti waspada hal ini agar jangan sampai gereja dikuasai oleh roh dunia ini.
Paulus kemudian mendorong Jemaat Korintus agar mereka mengikuti teladan jemaat-jemaat di Makedonia (ay.1), yang rela memberi dengan murah hati. Apa lagi mereka telah menikmati berbagai berkat dari Allah (ay.7). Sebab itu Paulus berharap agar jemaat Korintus termotivasi karena melihat teladan Kristus. Ia ingin jemaat Korintus dapat melihat kesempatan untuk menolong jemaat di Yerusalem, sebagai sebuah anugerah dari Allah (ay.9). Respons mereka terhadap kesempatan ini akan merupakan ujian bagi ketulusan kasih mereka pada Kristus. Kalau begitu, dalam HUT 66 PGI ini kita belajar bahwa  kemurahan hati itu merupakan anugerah Allah untuk kita saling peduli dan berbagi. Iman dan kasih kepada Yesus Kristus memang bukan hanya nyata melalui doa atau ibadah pribadi, tetapi juga tampak dalam kepedulian yang terwujud melalui pertolongan. Teladan dari jemaat-jemaat Makedonia menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk tidak menolong orang lain. Dengan melakukan hal itu, kita memenuhi hukum Yesus Kristus, yaitu mengasihi Allah dengan mengasihi sesama. Dan sesungguhnya: BERMURAH HATI IKUT MENANGGUNG BEBAN ORANG LAIN TERNYATA JUGA MERINGANKAN BEBAN SENDIRI~~~Amin!


Pdt. Emr. M. Jack Karmany, S.Th

KATA YANG PENUH KUASA


“KATA YANG PENUH KUASA”

Ada pepatah yg berkata "WORDS ARE THE DRESS OF THE MIND!!"
Artinya "KATA-KATA ADALAH PENAMPILAN PIKIRAN KITA!!"
Dari cara berbicara dan isi pembicaraan, kita bisa memahami karakter & kepribadian seseorang.
Kalau kita selalu berdebat, atau membangkang & punya sifat pemberontak atau selalu dimusuhi orang, belajarlah untuk tetap memakai kata-kata yg lemah lembut.
Lihatlah bagaimana orang lain akan berubah! Kata-kata sangat berkuasa untuk memperbaiki hubungan, menyembuhkan hati, memotivasi, menyenangkan orang, & memberkati orang.
Muliakan TUHAN dengan kata-kata kita.
Sahabat…
Kendalikan lidah,
Ciptakan satu kalimat yg dapat memberkati orang lain & alami suasana sukacita sepanjang hari.
“KATA-KATA LEMBUT ADALAH ARGUMENTASI YANG PENUH KUASA !!”
Mari belajar mengendalikan setiap patah kata yang keluar dari mulut kita. Semoga setiap ucapan kita akan membawa berkat dan sukacita bagi keluarga, teman, relasi, dan siapapun juga. Semoga semua makhluk berbahagia


~~~~~~~~Tuhan Yesus memberkati~~~~~~~~

Sabtu, 28 Mei 2016

REMAN INSAF KARENA WAS WAS

PREMAN INSAF KARENA WAS WAS
 Jeremia Situmorang

Pertama kali saya belajar mencopet, saya naik bus. Saya lihat ada calon korban saya. Tapi saya mau mencopet itu kayaknya ada sebuah yang namanya ketakutan sebenarnya. Takut ketahuan, takut digebukin massa. Tapi dorongan untuk lakukan itu tetap kuat, akhirnya saya copet juga,” demikian penuturan Jeremia Situmorang, mengenang pengalaman pertama terjerumus menjadi seorang preman.

Awalnya Jeremia mulai belajar mencopet ketika dirinya menyaksikan sekelompok pencopet di terminal seolah begitu mudah mendapatkan uang. Sembari berjualan koran, Jeremia muda yang hanya tamat Sekolah Dasar (SD) itu pun nekat mulai beraksi.
Aksi yang pertama benar-benar sukses. Sehingga memancingnya untuk kembali melakukan lagi dan lagi. Setiap hasil copet yang diperolehnya bahkan dipergunakan untuk pergaulan yang buruk, seperti minum-minuman keras dan merokok.

“Lambat laun pergaulan saya semakin nakal, semakin menyimpang. Saya merasa malu dipanggil orang nama Jeremia. Saya pikir kog, nama ini kog kayak nama cewek. Lalu saya ganti nama saya menjadi Robert”.

Selama 15 tahun sudah Jeremia menjadi tukang copet terminal. Namun, baginya hasil copet yang mereka dapatkan selama ini belum apa-apa. Timbul hasrat yang semakin jahat dalam dirinya untuk melakukan pencopetan besar-besaran di bus kota.

Waktu itu, Jeremia dan dua teman lainnya bersiap menjarah salah satu bus ibu kota. Berbekal senjata tajam di tangannya, Jeremia mulai memaksa satu per satu penumpang untuk menyerahkan benda-benda berharganya. “Semua penumpang metro mini itu kami rampok. Cuma modal satu celurit. Kami jambret, semua kami ambilin”.

Aksi mereka memang hampir berhasil kala itu. Namun teriakan seorang penumpang berhasil membuat massa mulai berdatangan dan berupaya menghadang ketiganya. Malangnya, Jeremia babak belur dihajar oleh massa sehingga mengakibatkan luka yang cukup parah.
Akibatnya, Jeremia harus mendekap di sel penjara selama tiga bulan lamanya. “Saya dibawa ke tahanan polisi, di sel. Selama tiga bulan saya ada di dalam sel, dan waktu di dalam itu saya nggak ada barang bukti lagi. Dan yang jelas saya bebas di situ”.

Namun setelah bebas, tiada penyesalan yang terbersit dalam hatinya. Ia kembali terjun menjadi preman terminal bersama dengan gank bentukannya yang diberi nama ‘ANTOGER’ atau Anak Tongkrongan Grogol’. Setiap hari, mereka memeras dan memaksa dengan kasar para pedagang terminal untuk mendapatkan sejumlah uang. “Kami berjudi, peras orang lain, dan saya sangat menikmati kehidupan seperti itu”.

Dan pada akhirnya, perjalanan kejahatan Jeremia sudah sampai di akhir babak. Tak lama setelah perampokan terakhirnya di sebuah kios milik seorang wanita, Jeremia dan komplotannya berhasil dibekuk polisi.

Benarlah bahwa dalam kondisi sulit dan berat, manusia cenderung akan mengingat Tuhan yang adalah pribadi yang mampu memberi pertolongan dan kasih. Hal itu pula yang dialami oleh Jeremia saat dalam proses rekonstruksi kasus yang membelitnya. Saat itu, dirinya benar-benar was-was akan keselamatannya ketika menyaksikan bagaimana salah satu dari rekannya tewas di tempat ketika berusaha melarikan diri.

“Saya lihat ngeri banget.  Ketakutan juga begitu ditembak saya pikir saya mau dikeg gitu atau gimana? Di situlah saya berdoa. Saya minta sama Tuhan: ‘Ya Tuhan tolong bebaskan aku dari sini ya Tuhan’. Saya pernah dengar nama Yesus di situ saya teringat ada satu lagu yang pernah diajarkan guru sekolah minggu yang pernah saya ikuti”.

Jeremia mulai membayangkan betapa berat siksaan api neraka saat dirinya mati dan masuk neraka. “Saya berdoa di situ: Tuhan aku berjanji kalau aku bebas dari sini, aku akan jadi orang baik-baik, ya Tuhan”.

Pertolongan Tuhan pun kembali hadir, Jeremia dibebaskan dari hukuman penjara. Hal itu seolah mimpi dalam hidupnya karena masih diberi kesempatan menikmati kehdiupan dan bertemu dengan keluarganya. Selepas dari itu, Jeremia mulai menghindar dari pergaulan buruknya di terminal. Hidupnya mulai difokuskan mengenal Tuhan melalui firman-Nya dan mulai menghidupi kehidupannya lewat pekerjaan halal.

“Sebebas saya dari tahanan itu, sampai di rumah saya keingat ‘ini pasti pertolongan Tuhan’. Saya ingat juga janji saya untuk jadi orang baik-baik. Akhirnya di situ saya putuskan untuk tidak nongkrong lagi. Saya bisa betah ada di rumah, bersama dengan keluarga, dengan mama saya, dengan kakak saya. Saya banyak belajar tentang firman Tuhan, kemudian anugerah Tuhan juga saya mendapatkan pekerjaan yang baik. Oleh karena bantuan keluarga juga. Walaupun yang saya dapatkan itu jauh lebih kecil dari yang apa yang saya dapatkan dulu, tapi saya nikmati hasilnya itu enak, bahagia”.


Melalui beragam kejadian yang dialami Jeremia, ia mengakui bahwa Tuhan itu benar nyata masih menolong dan mengasihinya. Sekali pun Jeremia adalah preman dan tukang copet, namun Tuhan tidak pernah abai dengan kehidupan setiap anak-anaknya. Tuhan memakai Jeremia, si mantan preman ini sebagai alat untuk membagikan kasih Tuhan kepada orang lain lewat perubahan hidupnya. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang

Sang PREMAN YANG TAK JERA DIPENJARA

“Sang PREMAN YANG TAK JERA DIPENJARA
 OLEH: Alvis

Kehilangan sosok ayah dan ibu sejak dari kecil membuat hidup Alvis menjadi tidak karuan. Sejak kecil ia tinggal bersama dengan sang om. Beranjak dewasa, kehidupan Alvis menjadi bebas dan membentuknya menjadi preman yang tak sungkan-sungkan menodong, memalak dan menjambret siapapun yang ia mau.

Alvis adalah sosok yang temperamental, keras dan emosional. Karena itu, ia tak segan-segan menghajar siapapun yang memancingnya marah. Hal itu membuat orang-orang di sekitar tempat tinggalnya ketakutan.

Saat melakukan aksinya, Alvis kerap mengancam korbannya untuk menyerahkan uang dalam jumlah yang ia minta. “Saya minta dengan ukuran yang saya minta, bukan yang dia kasih. Pada waktu itu saya baru mendapatkan uang dari hasil-hasil preman itu mendapatkan uang setiap bulannya dengan gampang,” tutur Alvis.

Berulang kali ia melakukan premanisme, berulang kali pula Alvis di jebloskan ke penjara. Tetapi hal itu tidak membuatnya jera dan berubah. Kejahatan Alvis semakin menjadi, ia tak lagi hanya menjadi preman, tetapi juga menjadi pengedar narkoba, tukang mabuk dan terjerumus dalam dunia malam.

“Waktu itu saya tinggal di bawah kali jodoh. Nah di situ saya pertama kali disuruh jual narkoba, yaitu berupa ganja untuk mencukupin kebutuhan. Karena pada waktu saya jalanin itu, saya orang yang happy (bahagia,red), maksudnya saya suka pesta pora, saya suka main perempuan, saya ngabisin duit beli narkoba. Pokoknya senang-senang”.

Sosok Alvis semakin dikenal banyak orang, bukan karena berperilaku baik   tetapi  justru karena tindakan kejahatannya. Sebagai pengedar narkoba yang sukses, Alvis juga dianggap sebagai ancaman bagi pengedar narkoba lainnya. Berulang kali ia dikeroyok oleh orang yang tak dikenal dan berulang kali ia harus kalah. Tak terima dengan kelemahan itu, Alvis berubah menjadi semakin bringas. Ia membalaskan dendam dengan membunuh orang yang pernah mengeroyoknya.

“Saya nggak pernah punya rasa kasihan, tapi saya punya rasa bagaimana saya itu harus menang,” terang Alvis.
“Saya dikasih kabar oleh teman saya, Vis yang loe tusuk itu mati. Trus gimana? Saya anggap remeh. Paling juga dihukum setahun dua tahun lah. Gampang itu mah”.

Alvis pun harus menanggung perbuatannya. Segerombol polisi mengegrebek Alvis dan menyeretnya ke penjara. Itu menjadi saat yang begitu lemah dalam hidup Alvis. Ia merasa tak berarti dan bukan siapa-siapa. “Di situlah saya merasa protes sama Tuhan. Saya katakan: Tuhan aku pernah dengar. Dulu aku adalah contoh yang mendengarkan firman Tuhan. Tetapi kenapa badanku bertato? Kenapa aku sekarang ditembak? Apakah ini orang yang mendengarkan firman Tuhan? Menyesal banget karena seakan-akan hidup itu nggak berarti. Kog hidup saya kayak sampah. Saya bilang ke Tuhan: Tuhan kalua hidup saya nggak berarti cabut saja nyawa saya,” kenang Alvis saat menghadapi keterpurukan itu.

Penjara adalah tempat dimana Alvis merenungkan kembali perjalanan hidupnya. Ia merasa kecewa pada keadaan, orang tua dan perbuatannya.  Ia ingin sekali berubah dan menjadi orang normal seperti yang lainnya. Hingga ia bertemu seseorang yang membawanya ke jalan  yang benar. Di dalam penjara Alvis pelan-pelan berubah dan menata dirinya menjadi pribadi yang baru.

“Jadi yang dulu saya jalanin sebelum saya mengenal Tuhan, itu hasilnya adalah sampah. Tapi setelah saya mengenal Tuhan, saya sangat bahagia. Tuhan bentuk saya yang tapinya orang yang tidak berarti menjadi berarti,” tandas Alvis. 

Saripati bawang putih melawan penyakit jantung

Saripati bawang putih melawan penyakit jantung

*Alexander Lumban Tobing


Liputan6.com, Los Angeles –
Walaupun dikeluhkan sebagai penyebab bau mulut tidak sedap, bawang putih memiliki khasiat yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa manusia.

Dikutip dari Daily Mail pada Rabu (27/1/2016), para peneliti di Los Angeles Biomedical Research Institute di Harbor-UCLA Medical Center mengungkapkan bahwa saripati (extract) bawang putih tua dapat mengurangi penumpukan plak dalam arteri sehingga mengurangi risiko penyakit jantung.

Penulis utama penelitian, Dr. Matthew Budoff, mengatakan, “Penelitian ini merupakan petunjuk lain manfaat suplemen ini dalam mengurangi penumpukan plak lembut dan mencegah terbentuknya plak baru di dalam arteri, yang dapat menyebabkan penyakit jantung.”

Penelitian ini melibatkan 55 pasien berusia dari 40 hingga 75 tahun, yang masing-masing mendapat diagnosa gejala metabolik. Para peserta dipilah sejak awal penelitian untuk mengukur total volume plak jantungnya. Demikian juga pemilahan kalsium, plak yang belum mengeras, dan plak tipis.

Pemilahan dilakukan dengan menggunakan cardiac computed tomography angiography (CCTA), yaitu suatu teknologi pencitraan yang mengukur deposit dan pembentukan plak di dalam arteri.

Setelah evaluasi, para peserta diberikan salah satu, placebo atau saripati bawang putih tua dosis 2.400 mg setiap hari. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mendapat saripati bawang putih tua memperlambat penumpukan plak hingga 80 persen.

Lebih dari itu, mereka mengurangi plak lembut dan menunjukkan kemunduran plak tipis.
Kata Dr. Budoff, “Kita telah mentuntaskan studi acak, dan membawa kita untuk menyimpulkan bahwa saripati bawang putih tua dapat membantu memperlambat kemajuan aterosklerosis dan membalik tahap awal penyakit jantung.”

Temuan penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Nurition dan hasilnya sejalan dengan penelitian tahun lalu yang dilakukan oleh University of Missouri. Pada saat itu, penelitian mengungkapkan bahwa bawang putih memberikan perlindungan pada otak terhadap penuaan dan penyakit. Bahkan bawang putih ditengarai dapat mencegah penyakit syaraf terkait usia, misalnya Alzheimer’s dan Parkinson’s.

Saat itu, para peneliti menemukan suatu jenis karbohidrat dalam makanan super itu. Kata Zezong Gu, profesor muda di Fakultas Kedokteran University of Missouri, “Bawang putih adalah salah satu suplemen makanan yang paling dimakan.”


Lanjutnya, “ Kebanyakan orang melihatnya sebagai makanan super, karena bahan yang mengandung sulfur dalam bawang putih diketahui sebagai sumber yang hebat antioksidan dan perlindungan anti-inflamasi.” Ia melanjutkan, “Para peneliti masih menggali sejumlah perbedaan cara bawang putih bermanfaat bagi tubuh manusia.”

BERJALAN DALAM KEHENDAK ALLAH, ITULAH BERHIKMAT

ITULAH BERHIKMAT
Amsal 3 : 16 – 26

Kebahagiaan yang sejati, sebab kebahagiaan itu mencakup dan sama dengan segala sesuatu yang dapat menyenangkan manusia (ay. 16-17, Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. 17 Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata). Bersangkutpaut dengan jaminan kebahagiaan dalam Amsal ini, kita bertanya begini:

(1) Apakah umur panjang merupakan sebuah berkat? Ya, berkat yang paling berharga. Hidup ini mencakup semua hal yang baik, dan karena itulah hikmat menawarkannya dengan tangan kanannya. Agama mengajari kita cara-cara terbaik untuk memiliki umur panjang dan melayakkan kita untuk menerima janji itu. Sekalipun jumlah hari kita di dunia ini sama dengan hari-hari yang dimiliki orang lain, tetapi agama akan menjamin kehidupan yang kekal di dunia yang lebih baik lagi nanti.

(2) Apakah kekayaan dan kehormatan merupakan berkat juga? Begitulah, dan karena itulah hikmat mengulurkannya dengan tangan kirinya. Sebab, sebagaimana dia siap untuk merengkuh orang-orang yang tunduk kepadanya dengan kedua tangannya, demikianlah pula dia siap untuk memberkati mereka dengan kedua tangannya itu. Mereka akan memiliki kekayaan dunia ini, sejauh yang dipandang baik oleh Sang Hikmat Tidak Terbatas. Sementara itu, kekayaan sejati yang membuat mereka kaya di hadapan Allah, disimpan baik-baik bagi mereka. Tidak ada kehormatan, baik yang diperoleh melalui kelahiran ataupun kedudukan, yang dapat menandingi kehormatan rohani, sebab kehormatan itu membuat orang benar lebih cemerlang daripada orang-orang lain di sekeliling mereka. Kehormatan itu juga menjadikan mereka baik di hadapan Allah, menimbulkan rasa hormat dan kekaguman dari orang-orang saleh lainnya di dunia ini, dan di dunia yang akan datang akan membuat segala hal yang kini tersembunyi menjadi bersinar terang bagaikan mentari.


(3) Apakah kesenangan itu merupakan sesuatu yang paling diinginkan? Benar begitu, dan kesalehan sejati pastinya mengandung kesenangan sejati terbesar. Jalannya adalah jalan penuh bahagia. Kita akan mendapati jalan-jalan yang ia tunjukkan untuk kita jalani penuh dengan kesenangan dan kepuasan. Segala kenikmatan dan hiburan lahiriah tidaklah sanggup menandingi kesenangan yang dimiliki oleh jiwa-jiwa yang penuh anugerah yang mereka dapatkan melalui persekutuan dengan Allah dan melakukan yang baik. Kita wajib menjalani satu-satunya jalan benar yang akan memimpin kita kepada tujuan akhir hidup kita, suka ataupun tidak, menyenangkan ataupun tidak. Walaupun begitu, jalan agama bukan saja jalan yang benar, tetapi juga jalan yang menyenangkan. Jalan itu mulus dan bersih, dihiasi bunga-bunga yang indah: segala jalannya sejahtera semata-mata. Damai sejahtera tidak saja menanti di akhir perjalanan, tetapi di sepanjang jalan. Bukan saja dalam jalan agama secara umum, tetapi dalam setiap jalan kecil di dalamnya, dalam segala jalan setapaknya, segenap tindakan, contoh dan kewajiban di dalamnya. Yang satu tidak lantas memahitkan apa yang telah dimaniskan oleh yang lainnya, sebagaimana yang biasa terjadi dalam hal-hal di dunia ini. Sebaliknya, semuanya adalah damai sejahtera, yang tidak hanya manis, tetapi juga aman. Para orang kudus memasuki damai sejahtera sorgawi ini, dan menikmatinya di  masa kini.

Selanjutnya, Firman Tuhan selalu mengingatkan kita tentang pentingnya hikmat. Hikmat lebih berharga daripada perak, emas dan permata (ayat 14-15). Hikmat memberikan kita kedamaian sehingga kita dapat tidur dengan nyenyak (ayat 24). Firman Tuhan juga mengaitkan hikmat dengan penyertaan dan penjagaan Tuhan (ayat 25-26).


Dengan kata lain, hikmat yang dimaksudkan di sini bukanlah hikmat manusiawi yang lepas dari jalur kehendak Allah. Hikmat bukanlah kecerdikan akal manusia yang mungkin bisa membebaskan kita dari masalah; sebaliknya, kadang hikmat membawa kita masuk ke dalam masalah namun kita tahu, bahwa itulah kehendak Allah. Hikmat memberi kita ketenangan sebab kita yakin bahwa kita berada dalam kehendak Allah. Secerdik apa pun akal kita dan seberapa besar pun keberhasilan kita lolos dari masalah, jika itu bukan jalan Tuhan, itu bukan hikmat dan di dalamnya tidak akan kita jumpai sentosa. Kalau begitu, Tempat yang paling aman di dunia adalah di tengah kehendak Allah. Berjalan dalam kehendak Allah sama dengan berhikmat ~~~Amin!

LILIN PENGHARAPAN

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka. Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”

Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam. Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata: Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga

Lilin lainnya: “Akulah HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

~~~~~~~~Tuhan Yesus memberkati~~~~~~~~